Pemanfaatan AI dan TPACK dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Transformasi Digital
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.”
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran berbagai aplikasi berbasis AI generatif memungkinkan guru dan peserta didik memperoleh informasi, menghasilkan gagasan, menganalisis teks, memberikan umpan balik, serta menciptakan berbagai produk pembelajaran dengan lebih cepat dan fleksibel. Perubahan tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan baru bagi dunia pendidikan.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, perkembangan AI memiliki potensi yang sangat luas. Bahasa tidak hanya dipelajari sebagai seperangkat kaidah, tetapi juga sebagai sarana berpikir, berkomunikasi, berkreasi, dan membangun pemahaman terhadap berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam pembelajaran Bahasa Indonesia seharusnya tidak berhenti pada penggunaan teknologi untuk menghasilkan jawaban atau menyelesaikan tugas. AI perlu dimanfaatkan sebagai alat untuk mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, reflektif, dan bertanggung jawab.
Kondisi tersebut semakin relevan dengan diterbitkannya Keputusan Bersama Tujuh Menteri pada 2026 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial. Pedoman tersebut menekankan agar pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pendidikan dilakukan secara etis, aman, bijak, bertanggung jawab, serta selaras dengan perlindungan anak dan tujuan pendidikan nasional.
Dengan demikian, persoalan utama bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pembelajaran, melainkan bagaimana guru merancang pemanfaatannya agar benar-benar meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), yaitu kerangka kompetensi yang mengintegrasikan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran. Dalam konteks perkembangan AI, guru perlu mengembangkan kemampuan tersebut menjadi kompetensi yang memungkinkan teknologi, termasuk AI, digunakan secara tepat sesuai tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kebutuhan peserta didik, dan konteks pembelajaran.
AI dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
AI dapat dipahami sebagai teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia, seperti mengenali pola, mengolah bahasa, menghasilkan teks, menganalisis informasi, dan memberikan respons terhadap perintah pengguna.
AI generatif merupakan salah satu perkembangan yang paling banyak memengaruhi dunia pendidikan saat ini. Teknologi ini dapat membantu menghasilkan teks, merumuskan pertanyaan, memberikan alternatif gagasan, menyusun contoh, menganalisis bahasa, serta memberikan umpan balik.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai keterampilan berbahasa.
1. AI untuk pembelajaran menyimak
Guru dapat memanfaatkan AI untuk membantu menyediakan bahan simakan dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Peserta didik dapat menyimak teks berita, wawancara, pidato, cerita, atau paparan kemudian mengidentifikasi informasi penting, gagasan utama, fakta, opini, maupun hubungan sebab-akibat.
AI juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menghasilkan pertanyaan pemahaman berdasarkan bahan simakan. Namun, guru tetap perlu melakukan validasi terhadap isi, tingkat kesulitan, dan kesesuaian bahan dengan tujuan pembelajaran.
2. AI untuk membaca dan memirsa
Pada keterampilan membaca, AI dapat membantu peserta didik mengeksplorasi berbagai jenis teks. Misalnya, peserta didik membaca teks eksplanasi mengenai perubahan iklim, kemudian menggunakan AI untuk mengajukan pertanyaan lanjutan.
Yang lebih penting, peserta didik tidak sekadar meminta AI memberikan ringkasan. Mereka perlu membandingkan hasil AI dengan teks asli, menemukan informasi yang tidak tepat, memeriksa bukti, kemudian menyusun kesimpulan sendiri.
Dengan demikian, AI justru menjadi objek evaluasi yang mendorong kemampuan berpikir kritis.
3. AI untuk pembelajaran berbicara dan mempresentasikan
AI dapat digunakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan presentasi, pidato, diskusi, wawancara, atau debat.
Sebagai contoh, peserta didik dapat meminta AI memberikan kemungkinan pertanyaan yang muncul dalam sebuah debat. Selanjutnya, peserta didik mencari data dan bukti untuk membangun argumennya sendiri.
Dalam konteks ini, AI bukan pengganti kemampuan berbicara peserta didik. AI berfungsi sebagai mitra latihan, sedangkan kemampuan mengemukakan pendapat, mempertahankan argumen, merespons lawan bicara, dan menggunakan bahasa secara efektif tetap harus dilakukan oleh peserta didik.
4. AI untuk pembelajaran menulis
Keterampilan menulis merupakan salah satu bidang yang memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI.
Peserta didik dapat menggunakan AI pada tahap pramenulis, misalnya untuk menghasilkan alternatif topik, menentukan sudut pandang, membuat peta gagasan, atau mengembangkan pertanyaan penelitian sederhana.
Pada tahap penulisan, AI dapat digunakan untuk memberikan alternatif struktur atau contoh. Sementara pada tahap pascamenulis, AI dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alat bantu untuk mengidentifikasi kesalahan ejaan, pilihan kata, struktur kalimat, dan koherensi.
Namun, terdapat prinsip penting yang harus ditegakkan: AI tidak boleh mengambil alih proses berpikir dan kepengarangan peserta didik.
Kajian literatur terbaru menunjukkan bahwa AI memiliki potensi mendukung berbagai keterampilan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, termasuk menyimak, menulis, berbicara, pemahaman membaca, kosakata, dan konstruksi kalimat. Pada saat yang sama, kajian tersebut juga menunjukkan adanya tantangan berupa kesenjangan literasi digital, ketimpangan infrastruktur, privasi data, dan risiko plagiarisme.
TPACK sebagai Kerangka Integrasi AI
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak otomatis menjadikan pembelajaran lebih berkualitas. Guru mungkin memiliki kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi belum tentu mampu mengintegrasikannya dengan strategi pedagogis dan materi pembelajaran.
Di sinilah TPACK menjadi penting.
TPACK mengintegrasikan tiga pengetahuan utama:
Content Knowledge (CK) – pengetahuan tentang materi yang diajarkan.
Pedagogical Knowledge (PK) – pengetahuan tentang strategi, metode, model, dan proses pembelajaran.
Technological Knowledge (TK) – pengetahuan tentang teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran.
Ketiga aspek tersebut tidak berdiri sendiri. Guru perlu memahami hubungan antara materi, pedagogi, dan teknologi sehingga pemilihan teknologi benar-benar mendukung tujuan pembelajaran.
Dalam konteks AI, guru Bahasa Indonesia perlu mengembangkan pertanyaan mendasar:
Apa tujuan pembelajarannya?
Kemampuan apa yang harus dimiliki peserta didik?
Bagian mana yang dapat dibantu AI?
Bagian mana yang harus tetap dikerjakan peserta didik secara mandiri?
Bagaimana guru memastikan bahwa penggunaan AI tetap mendorong proses berpikir?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa teknologi seharusnya mengikuti kebutuhan pedagogis, bukan sebaliknya.
Dari TPACK menuju AI-TPACK
Perkembangan AI mendorong munculnya pengembangan konsep AI-TPACK, yaitu kemampuan guru mengintegrasikan kecerdasan artifisial dengan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten.
Penelitian mengenai kompetensi AI-TPACK menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pembelajaran membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Guru juga membutuhkan pengetahuan mengenai aspek pedagogis dan konten agar AI dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, AI-TPACK dapat diwujudkan melalui beberapa pertimbangan berikut.
Aspek dan pertanyaan yang perlu dipertimbangkan guru
Konten : Materi Bahasa Indonesia apa yang paling tepat didukung AI?
Pedagogi : Model pembelajaran apa yang sesuai?
Teknologi : Aplikasi AI apa yang relevan dan aman?
Peserta didik : Apa kebutuhan, kemampuan, dan tingkat literasi digital mereka?
Etika : Bagaimana menjaga kejujuran akademik, privasi, dan tanggung jawab?
Asesmen : Bagaimana menilai proses berpikir, bukan sekadar produk akhir?
Dengan pendekatan tersebut, guru tidak terjebak pada penggunaan AI hanya karena teknologi tersebut sedang populer.